Abdi Dalem Kraton Yogja Sebulan Dibayar Seribu Perak
———————————————–
Tumirah, itu nama aslinya. Dia selalu bilang kalau dirinya saat ini menjadi seorang abdi dalem. Usia Tumirah saat ini di atas 70 tahun. Dia tidak ingat pastinya. Yang jelas Tumirah sudah lama berada di kraton Yogya.
Tak hanya itu, Tumirah juga memiliki banyak nama. “Nama saya banyak. Di Mangkubumen nama panggilan saya Moyong. Kemudian ada yang menyebut saya Kenes, ada yang memanggil saya Brintik. Tapi sebenarnya nama saya ya itu tadi, Tumirah,” kata Tumirah.
Dinamakan monyong, mungkin karena bibirnya yang selalu monyong setiap kali berbicara. Atau dinamakan brintik karena rambutnya memang keriting.
Namun, dari balik wajahnya yang keriput itu, tetap bangkit sesuatu yang genit. Terutama caranya ngomong. Perintah Si Genit Tumirah ini sebetulnya masih punya nama julukan yang lain. Para tetangganya kalau lagi gondok suka memanggilnya Mbok Kiwir lantaran daun telinganya yang terlanjur memanjang ke bawah.
Pada suatu masa dulu barangkali ia terlalu banyak menggantung perhiasan di kawasan itu. Tapi ini tidak penting. Ia seorang yang pantas dipunten karena kesetiaannya. Juga termasuk orang yang dekat pada Sultan secara fisik. Karena ialah orangnya yang melayani Sultan makan sejak 20 tahun lebih.
Sementara ia paritas juga membanggakan diri karena sudah 40 tahun bekerja sebagai abdi dalem. Ya. kan, Tum?
“Saya berbeda dengan keparak yang lain,” kata Tumirah mulai menceritakan keistimewaannya.
“Saya menjadi keparak karena dawuh (perintah) dari atas. Yang lain kan melalui permohonan sendiri!”
Kemudian ia membayangkan lagi hidup sebelum jadi keparak. Pada mulanya, waktu masih muda, ia senang berdagang. Jualan apa saja, mulai dari makanan sampai kain batik.
Diperintah Ngabdi
Pada suatu hari yang baik, Bendoro Raden Ayu Pintoko, salah satu isteri Sultan Hamengkubuwono IX, memberi tawaran. Kalau-kalau Tumirah suka meninggalkan jualannya untuk bergabung ke kraton sebagai abdi.
Tidak perlu diingatkan, bagaimana masih tebalnya rasa hormat rakyat Yogya pada Kraton. Dari sudut itulah, kenapa tawaran BRA bagi Tumirah adalah perintah. Praktis setelah itu Tumirah memasuki lingkaran baru. Seminggu sekali ia tampi (dapat giliran) untuk tidak keluyuran. Seminggu sekali Tumirah jegreg-jegreg, mengunci kamarnya yang berukuran 3 x 4 meter di mana ia hidup, tidur dan sekaligus memasak.
Ia akan melintas sambil menjinjing sebuah tas berisi pakaian dan beras. Kenapa pakaian dan beras. Pakaian, karena si genit ini akan bertugas selama 2 hari nonstop. Lalu kenapa beras, ya untuk apa lagi kalau tidak dimakan.
Selama bekerja 2 hari nanti, Kraton tidak menjamin makan. Untuk para keparak (sekarang jumlahnya 60 orang lebih) selama 2 hari tugas sudah disediakan jaminan berbentuk uang. Jumlahnya Rp 20 (dua puluh rupiah) waktu itu. Seluruh abdi dalem memang hanya dinilai Rp 10 makan satu hari. Jadi terpaksa “self service”.
“Gaji saya sekarang Rp 1000 per bulan,” kata Tumirah.
Waktu ditanya apa jumlah itu cukup atau tidak, Si Brintik ini menjawab dengan kenes: “Ya tentu saja cukup! Dalam beslit gaji saya malah masih tertulis Rp 6, cukup untuk membeli tempe goreng sepotong.”
Tapi kemudian ia tertawa. Soal gaji itu tidak terlalu serius dalam pikirannya. Meskipun usianya sudah gaek, tapi ia cukup pakai perhitungan: di samping jadi keparak, tetap meneruskan kepintarannya berjualan.
“Dagang apa saja, sekenanya, asal dapat,” kata Tumirah.
Sayang sekali usianya menjadi halangan sehingga ia tidak bisa gesit setiap hari seperti dulu. Tumirah hanya sendirian sekarang. Suaminya yang berusia lebih muda tinggal di tempat lain, memeluk bininya yang nomor 3.
Lelaki itu juga bekerja di Kraton dengan pangkat bekel. Tumirah sebagai isteri paling tua rupanya sadar harus menghadapi sisa hidupnya dengan sepi. Habis bagaimana lagi tak punya anak. Barangkali ini yang menyebabkan ia lebih mencurahkan lagi pengabdiannya pada Kraton.
Berkah Dalem Sri Sultan, sebagaimana diketahui selama ini tinggal di Jakarta. Sekali-sekali saja beliau kelihatan di Kraton. Tapi tidak berarti santapan tak perlu disediakan. Tetap saja. Setiap hari, tidak peduli ada atau tiada, masakan disiapkan. Yang masak memang bukan Tumirah, abdi ini hanya meladeni.
Kompetensi memasak berada di tangan isteri-isteri Sultan sendiri. Dari dapur Istana, santapan tersebut dipikul dengan keranjang ditudungi dengan payung. Diiringi beberapa orang abdi dalem, dibawa ke Gedung Kuning, salah satu bagian Istana tempat tinggal Sultan. Di situ ada sayur lodeh, oseng-oseng, lontong sate dan sebagainya, pokoknya yang umum-umum saja.
Yang spesial dan menjadi makanan kegemaran Sultan adalah yang disebut lauk genem. Itu lho daging sapi dicacah dan dibentuk bulatan, dibumbui antara lain dengan cabai dan belimbing. Hmmm.
Menurut Tumirah, Sultan kadangkala kalau di Yogya, sebelum makan suka menegur. Tapi kalau lagi bersantap, ia tenggelam dalam hidangan yang dihadapi. Makanan semacam ini dihidangkan 2 kali kalau Sultan ada.
Untuk sarapan, Sultan memilih roti. Sedang kalau Sultan absen, makanan hanya disiapkan pada pukul 12 tengah hari. Tiga jam kemudian, makanan yang tak tersentuh itu akan diwaris, dibagi-bagikan kepada para isteri dan putera. Baru sisanya, kalau ada bisa sampai ke mulut macam Tumirah ini.
“Lho, walaupun hanya kebagian sejumput kecil, tapi itu kan berkah Dalem (berkah Raja),” kata Tumirah dengan sungguh-sungguh.
“Berkah Dalem” yang seakan menjiwai pengabdian para Tumirah tersebut, memiliki nilai spirituil yang tinggi. Inilah yang sudah menentramkan hati setiap abdi, sehingga mereka sama sekali tidak mempersoalkan jumlah yang mereka terima.
Karena itu wajar sekali kalau Tumirah menganggap kesenangan terbesar selama ia mengabdi, adalah merasa sudah “melayani Ngarsa Dalem”-melayani Raja.
Lalu dukanya apa? Dengan tatapan mata heran, ya sangat heran, si genit itu menatap lalu menjawab: “Ya jelas tidak ada! Lha wong bisa melayani Ngarsa Dalem, kok dukanya?”
Tumirah Brintik memang mendapat variasi sehingga pengabdiannya itu agak berwarna sedikit. Ini terjadi kalau misalnya Sultan mantu. Nah, di sinilah orang tua ini harus melakukan sesuatu yang lain, sekaligus juga menerima penghasilan tambahan.
Tumirah selalu dipilih untuk dijadikan edanedanan (berperan sebagai orang gila). Ini termasuk salah satu bagian upacara pernikahan. Kalau sudah begini Tumirah boleh mereka-reka untuk sekali-sekali beli bakso atau nonton ketoprak, karena ia akan mendapat imbalan Rp 2.250.
Sayang sekali Sultan tidak sering-sering mantu. Sekarang ini, Tumirah tidak begitu genit lagi. Kesehatannya sudah sangat mundur. Badannya panas, batuk dan pusing “Saya tahu saya tidak akan sembuh,” kata Tumirah.
“Saya tidak mau periksa ke dokter lagi. Kalau diperiksa dokter, tentu saya harus operasi.”
Wajahnya kelihatan sudah pasrah. Kepasrahan itu jugalah yang sudah dipegangnya selama ini sebagai seorang abdi dalem.
Lalu giliran tampi di Kraton meladeni Sultan bagaimana? Yah, kalau tidak bisa bertugas karena sakit, ia bisa minta tolong temannya untuk menggantikan. Untuk itu imbalannya Rp 100 sehari.
sumber
sumber
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar